Bagaimana Akhlak Pelajar?

12-04-19 admin 0 comment

“Sebenarnya saya mulai marah merasa dilecehkan, tapi saya redam. Kalau saya memukul anaknya, perilaku itu sangat tidak terpuji dan bukan cara terbaik untuk mendidik,” Ujar Nur Khalim (30), guru honorer di SMP PGRI Wringinanom saat dilecehkan muridnya AA, kelas IX.

Awalnya, Pak Nur Khalim menegur baik-baik karena ngeliat AA kedapatan tengah asyik merokok di dalam kelas. Bukannya berhenti merokok, AA malah ngomel-ngomel terus nantangin guru IPS itu sambil memegang krah baju dan memegang leher pak Guru. Video perilaku tak terpuji siswa ini sempat viral di sosial media dan mengundang banjir hujatan netizen.

Meski akhirnya AA meminta maaf di depan orang tua dan kepala sekolahnya sambil mencium kaki Pak Nur Khalim sebagai bentuk penyesalan saat mediasi di Mapolsek Wringinanom, Minggu (10/2/2019).

Sementara di kota Makassar, 4 siswa SMP dan orang tua siswa menganiaya Faisal Pole (38) pegawai honorer petugas kebersihan SMP Negeri 2 Galesong Takalar, Sulawesi Selatan hingga bersimbah darah.

Bermula ketika para siswa pelaku itu mengejek Faisal Pole yang tengah membersihkan pekarangan sekolah dengan perkataan yang tidak sopan. Merasa dilecehkan, faisal terpancing emosinya dan menampar salah satu siswa. Buntutnya, siswa itu pulang dan mengadu kepada orangtuanya. Tak lama kemudian, dia beserta ayahnya mendatangi sekolah dan bersama keempat rekan siswa lainnya memukuli Faisal Pole dengan sapu hingga berdarah. Miris!

Ada Apa dengan Moral Pelajar?

Apa yang menimpa Pak Nur Khalim atau Pak Faisal Pole bukan pertama kali ini aja viral di sosial media. Kalo kita telusuri ke belakang, ternyata banyak perilaku tak terpuji bahkan cenderung brutal ditunjukkan banyak pelajar pada gurunya. Baik saat jam pelajaran di sekolah, atau di luar lingkungan sekolah.

Saat kegiatan belajar mengajar berlangsung misalnya, sering kedapetan pelajar yang tak menghargai gurunya yang tengah menjelaskan pelajaran di depan kelas. Ada yang asyik main ponsel sambil cekakak cekikik cekukuk sendiri kaya orang kesurupan. Nggak mau ketinggalan update status di sosial media.

Seorang guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) Darrusalam, Kecamatan Pontianak Timur, Nuzul Kurniawati menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh muridnya sendiri berinisial NF, Rabu (7/3/2018).

Peristiwa tersebut terjadi ketika proses belajar mengajar sedang berlangsung di kelas VIII di SMP tersebut, NF malah bermain telepon seluler (ponsel). Korban kemudian menegur NF yang saat itu masih asyik bermain ponsel, tapi tak digubris lalu merebut ponsel tersebut dari tangan pelaku. Tak terima ditegur, NF kemudian memukul korban menggunakan kursi plastik hingga korban sempoyongan.  Ponsel yang dipegang korban saat itu terlepas dan terempas ke lantai. Melihat ponselnya terlepas dari pegangan korban, pelaku kemudian mengambilnya lalu melemparkannya ke korban tepat mengenai bagian lehernya. Tega!

Sering juga kita temukan, ada siswa yang bikin forum sendiri ngobrol dengan teman sebangku di depan, belakang, kiri atau kanannya saat guru sedang mengajar. Giliran bete, temennya diisengin atau bikin pertunjukkan yang bikin rusuh dan memancing perhatian teman sekelas.

Sebuah video viral di instagram menunjukkan aksi siswa main kuda-kudaan saat jam pelajaran berlangsung. Kejadian itu berlangsung di salah satu kelas di SMK PGRI 8 Ngawi. Wakil Kepala Sekolah SMK PGRI 8 Sumarlin membenarkan jika video tersebut direkam anak didiknya saat pelajaran berlangsung. Di akhir video, sang guru berusaha menegur ketiga siswa yang berbuat ulah tersebut.

Yang lebih parah, ketika kekecewaan siswa terhadap gurunya berujung pada tindakan fisik. Siswanya kalap, hingga tega menganiaya, bahkan menumpahkan darah dan menghabisi nyawa gurunya sendiri. Ngeri!

Tahun 2017 lalu, seorang murid SMAN 1 Kubu berinisial EY nekat melakukan tindakan sangat tak terpuji. Dia tega menghajar gurunya PR (34) menggunakan kursi kayu dan tangan kosong pada saat pembagian rapor, Sabtu (17/6). Dia sakit hati kepada PR, karena beranggapan bahwa nilai mata pelajaran yang diajarkan PR yang menyebabkan dirinya tidak naik kelas.

Emang nggak semua pelajar berperilaku kurang ajar terhadap gurunya. Tapi kalo jumlahnya lebih dari satu dan banyak terjadi di berbagai daerah, tak bisa dianggap sekedar oknum pelajar pelakunya. Pelajar yang merendahkan, melecehkan, persekusi, hingga tindakan fisik terhadap gurunya tak bisa dianggap wajar meski bilangnya cuman bercanda. Ada apa dengan moral pelajar?

Minim Pendidikan Adab

Para pelajar yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan yang jauh dari nilai-nilai Islam, minim sekali dapat pendidikan adab. Baik di dalam keluarga, lingkungan sekitar rumah, atau di sekolah.  Padahal dalam dunia menuntut ilmu, pendidikan adab ini menjadi pondasi bagi para pelajar biar bisa menundukkan hawa nafsunya.

Imam Abu Hanifah dulu lebih menyukai mempelajari kisah-kisah para ulama dibandingkan menguasai bab fiqih. Beliau berkata, “Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlak luhur mereka.”

Yup, pendidikan adab akan membentuk karakter pelajar yang berakhlak mulia. Mereka akan berusaha konsisten menjauhi perilaku maksiat. Pantang bagi mereka untuk berkata kasar, jorok, mengumpat atau mencela baik pada teman sebaya, staf honorer atau guru yang mulia. Rasul saw mengingatkan kita, “Sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang paling berat ditimbangan kebaikan seorang mu’min pada hari kiamat seperti akhlaq yang mulia, dan sungguh-sungguh (benar-benar) Allah benci dengan orang yang lisannya kotor dan kasar.” (HR. At Tirmidzi nomor 2002).

Pendidikan adab akan menjaga para pelajar dari sikap brutal. Saat merasa kecewa dan emosinya meledak-ledak, dia ingat nasihat Rasulullah saw, “Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskan pelampiasannya, maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya.” (HR. Abu Dawud – At-Tirmidzi)

Dalam pendidikan sekuler saat ini, pembinaan adab para pelajar sangat minim. Para pelajar didorong untuk berprestasi dari sisi akademis dan keberlimpahan materi sebagai tolok ukur keberhasilannya. Namun kering dari nilai ruhiyah dan akhlak terpuji.

Ada anak pandai dalah hal mata pelajaran umum tapi sisi agamanya kurang. Ada anak yang sangat terampil tapi perilakunya buruk, kurang sopan sama guru dan orang tuanya, suka minum minuman keras, terlibat narkoba, hamil di luar nikah, melakukan aborsi, tawuran dan lainnya.

Untuk saat ini, pendidikan adab yang maksimal bagi para pelajar bisa dilakukan dengan mendorong mereka untuk mengenal Islam lebih dalam. Baik secara mandiri, gabung komunitas pengajian remaja maupun difasilitasi sekolah di luar jam pelajaran. Yang penting, para pelajar kuat imannya, kokoh akidahnya, sehingga terjaga perilakunya.

Muliakan Gurumu, Berkah Ilmumu

Dalam Islam, kedudukan seorang guru begitu mulia. Karena berkat keilmuannya, guru akan membawa kebaikan pada muridnya baik di dunia maupun di akhirat. Tak heran jika secara materi, pemerintahan Islam sangat menjamin kesejahteraan seorang guru. Seperti yang dilakukan oleh khalifah Umar bin Khathab.

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dar al- Wadl-iah bin Atha, bahwasanya ada tiga orang guru di Madimah yang mengajar anak-anak dan Khalifah Umar bin Khattab memberi gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63,75 gram emas; bila saat ini 1 gram emas Rp. 500 ribu, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar 31.875.000).

Secara sosial, penghargaan murid terhadap guru bukan semata karena balas budi. Tapi lebih dari itu, tuntutan keimanan demi mengejar ridho Illahi. Rasul saw ngingetin dalam sabdanya,

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti (hak) orang yang berilmu (agar diutamakan pandangannya).” (HR. Ahmad)

Dalam literatur pendidikan Islam, pelajaran pertama yang diterima seorang murid adalah bab Adabu Mu’allim wa Muta’allim (adab antara guru dan murid). Ali bin Abi Thalib mengingatkan sekecil apa pun ilmu yang didapat dari seorang guru tak boleh diremehkan.

Imam Syafi’i pernah membuat rekannya terkagum-kagum karena tiba-tiba saja ia mencium tangan dan memeluk seorang lelaki tua. Para sahabatnya bertanya-tanya, “Mengapa seorang imam besar mau mencium tangan seorang laki-laki tua? Padahal masih banyak ulama yang lebih pantas dicium tangannya dari pada dia?”

Imam Syafi’i menjawab, “Dulu aku pernah bertanya padanya, bagaimana mengetahui seekor anjing telah mencapai usia baligh? Orang tua itu menjawab, “Jika kamu melihat anjing itu kencing dengan mengangkat sebelah kakinya, maka ia telah baligh.”

Hanya ilmu itu yang didapat Imam Syafi’i dari orang tua itu. Namun, sang Imam tak pernah lupa akan secuil ilmu yang ia dapatkan. Baginya, orang tua itu adalah guru yang patut dihormati. Sikap sedemikian pulalah yang menjadi salah satu faktor yang menghantarkan seorang Syafi’i menjadi imam besar.

Temans, seorang guru hakikatnya tak gila hormat. Ketulusannya dalam mengajar, bukan karena materi, tuntutan profesi atau pengen dihargai. Meski begitu, kita sebagai murid udah sepatutnya tahu diri untuk menghormati guru. Membalas kebaikan guru merupakan suatu kewajiban bagi murid. Sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya, “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS al-Qashash [22]: 77).

Sekeras apapun guru mendidik kita, selama tak melanggar hukum syara, tak ada alasan bagi kita untuk membencinya. Apalagi sampai ngasih laporan lebay pada orang tua, curhat di sosial media, atau dibawa ke meja pengadilan. Yang harus kita lakukan adalah bersabar dan menerimanya dengan suka cita agar ilmu yang kita terima berkah. Imam Syafi’i mengingatkan kita, “Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru, sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu kerana memusuhinya.” Muliakan gurumu, agar berkah ilmumu.[Humas]



Leave a reply

Need Help? Chat with us